BNPB Apresiasi Koordinasi Kesiapsiagaan Relawan Erupsi Merapi

AKTIVITAS vulkanik Gunung Merapi yang berada pada perbatasan wilayah administrasi Daerah Sempurna Yogyakarta dan Jawa Tengah meningkat. Situasi ini mendorong Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) meningkatkan status aktivitas lantaran level II menjadi level III pada Kamis (5/11).

Kondisi itu cepat disikapi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah Wilayah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng). BPBD di empat kabupaten yakni Boyolali, Klaten, Magelang dan Sleman telah mengevakuasi grup rentan. Kelompok rentan tersebut berasal dari dusun-dusun yang direkomendasikan BPPTKG untuk dievakuasi ke tempat tenang.

Para warga dari beberapa dusun itu ditampung di tempat evakuasi sementara (TES) dan tempat evakuasi simpulan (TEA) dengan menerapkan protokol kesehatan tubuh. Tempat penampungan ini telah dipersiapkan sesuai dengan ketentuan yang sudah disepakati bersama atau sister village. Di samping itu, pemerintah kampung yang dibantu dengan sukarelawan ataupun relawan memberikan pelayanan yang terbaik kepada mereka.

Dalam penanggulangan bencana, relawan memiliki peran yang sangat penting yaitu mendukung penyelenggaraan penanganan di lapangan. Hal tersebut telah ditunjukkan seperti pada dukungan dapur ijmal lapangan maupun logistik bantuan.

Konteks itu menguatkan pada slogan ‘Penanggulangan Bala adalah Urusan Bersama. ’ Awak Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selalu mendorong berbagai pihak untuk terkebat aktif dalam kesiapsiagaan, khususnya menghadapi potensi letusan Gunung Merapi.

BNPB melalui Deputi Bidang Pencegahan menindaklanjuti secara melaksanakan koordinasi antarrelawan untuk mengomunikasikan kesiapsiagaan menghadapi potensi erupsi. Utusan Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan memimpin langsung koordinasi tersebut di Yogyakarta.

Lilik menyampaikan, hal penting yang perlu diingat adalah perlunya perencanaan yang matang, seperti persiapan mengaktivasi rencana kontingensi menjadi rencana operasi dengan skenario terburuk disesuaikan secara informasi yang disampaikan oleh BPPTKG.

“Kesiapan relawan yang tergabung dalam bervariasi organisasi yang hadir dalam penyelarasan hari ini perlu diapresiasi. Tetapi, kita tetap perlu menyiapkan suatu perencanaan yang baik. Rencana kontingensi yang dimiliki harus siap diaktivasi menjadi rencana operasi, ” perkataan Lilik dalam keterangannya, Jumat (13/11).

Baca juga:   Ada Blantik di Lereng Merapi

Lilik memasukkan, informasi bersumber dari satu pintu yaitu BPPTKG, sehingga informasi dengan simpang siur atau hoaks tak meresahkan masyarakat.

Salah satu perwakilan dibanding Pasag Merapi, Sukiman, menyampaikan had saat ini warga Merapi masih mampu menangani secara mandiri.

“Pemerintah tengah tidak perlu turun langsung dengan terburu-buru, kami masih mampu menghadapi secara mandiri. Tunggu hingga kami melambaikan tangan, memohon pertolongan, gres kemudian turun tangan, ” perkataan Sukiman.

Pada kesempatan yang sama, cabang organisasi relawan sepakat terhadap penerapan prosedur kesehatan dan protokol kesehatan di tengah pandemi covid-19 yang masih berlangsung. Mereka yang mau membantu harus dipastikan aman sehingga tidak menimbulkan penularan virus pada warga yang akan dibantunya.

Pertemuan penyerasian ini bertujuan untuk melihat kesiapan daerah terutama relawan dalam menghadapi potensi erupsi Merapi. BNPB, BPBD DIY dan Provinsi Jawa Sedang sifatnya hanya mendukung dan mendampingi. Tindak lanjut dari koordinasi ini diharapkan desk relawan dapat diaktifkan guna memetakan ketersediaan dan kebutuhan sumber daya sehingga alokasinya menjadi tepat sasaran.

Hadir dalam pertemuan ini Kepala Pusat Data, Informasi, serta Komunikasi Kebencanaan BNPB, Kepala Pelaksana BPBD DIY, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Provinsi Jawa Tengah, & perwakilan berbagai organisasi kerelawanan dengan ada di wilayah DIY dan Provinsi Jawa Tengah yang serupa mewakili Kabupaten Sleman, Magelang, Klaten, dan Boyolali. (OL-5)

Scroll Up